Hari-hari Bung Karno ketika diasingkan di Bengkulu

Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno atau yang lebih akrab disapa Bung Karno pernah diasingkan di Bengkulu. Ketika itu Bengkulu masih dijajah bangsa Belanda. Ia diasingkan di Bengkulu selama 3 tahun. Meski diasingkan, gerak-geriknya membangkitkan warga untuk merdeka dari penjajahan bangsa asing terus dilakukannya. Dia selalu mencari cela untuk memotivasi rakyat Bengkulu untuk merdeka.

Meskipun lama diasingkan di Bengkulu, tidak banyak warga Bengkulu yang tahu apa yang telah dilakukannya. Karena Bung Karno melakukan gerakannya secara tersembunyi dan baik. Selain itu sulit melacak informasi apa yang dilakukannya di Bengkulu ketika itu. Karena hampir semua saksi yang hidup pada masa  pengasingannya di Bengkulu sudah tidak ada. Kalaupun ada mereka yang hidup pada masa pengasingan bung Karno di Bengkulu, mereka tak pernah bergaul dengan  Buang Karno. Untungnya, masih ada salah satu warga Bengkulu yang meninggalkan catatan kecilnya tentang Bung karno semasa pengasingannya di Bengkulu. Dia adalah almarhum  H. Boerhan Wahid Bin Thaib warga gang Sepakat Kelurahan Tanah Patah Bengkulu. Semasa pengasingan bung Karno di Bengkulu, usia Burhan masih 12 tahun. Semasa hidupnya Boerhan belum pernah menyerahkan cacatan kecilnya dengan judul “Sekelumit Cerita Keberadaan Bung Karno di Kota Bengkulu” yang ditulisnya  tanggal 10 Desember 1997 lalu. Ketika menulis catatan itu suami Hj. Hamida ini sudah 73 tahun. Sebelumnya bapak yang memiliki 4 anak, 15 cucu dan 1 cicit ini  tidak berkenan jika tulisannya dimuat di media manapun. Pasalnya, dia takut disalahgunakan. Akhirnya setelah diyakinkan berkali-kali, sebelum ia wafat pada  15 September 1998 silam mau memberikan catatannya itu demi kepentingan dan pengetahuan masyarakat banyak.  Kapan hari dan waktu tepatnya Bung Karno mulai diasingkan di Bengkulu Boerhan tidak ingat betul. Karena waktu itu dia masih kecil masih duduk dibangku Taman  Siswa (SD saat ini).

Menurut cerita yang ia peroleh dari guru Taman Siswanya dahulu, Salmiah Pane, isteri M.A. Chanafiah , Bung Karno itu datang ke Bengkulu pada tahun 1938, dia  datang dari Ende, Flores, Nusa Tenggara. Kedatangan Bung Karno waktu itu telah diketahui oleh orang-orang pergerakan di Bengkulu sebelumnya.  Mereka ini diam-diam telah membentuk panitia penyambutan  kedatangan Bung Karno.  Kepindahan Bung Karno dari Ende ke Bengkulu ini sudah lama diketahui Salmiah. Ia mengetahuinya karena mendapat telepon dari orang  pergerakan di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Mereka mengatakan bahwasanya Bung Karno menumpang bus dari Lubuk Linggau. Mendengar kabar tersebut, para pejuang pergerakan melakukan penjemputan dan mereka berhati-hati sekali terhadap penjemputan tersebut.  Apalagi pada saat itu  bendera merah putih biru sedang berkibar dengan megahnya. Saat itu Indonesia masih bernama Netherland Indie (Hindia Belanda) yang berada di bawah  pemerintahan Kerajaan Belanda, waktu itu ratunya bernama Wilhelmina ibunya Ratu Yuliana. Penjemputan Bung Karno dibagi dalam 2 kelompok. Satu kelompok menunggu di Pasar Pengantungan. Satu kelompok lagi menunggu di tempat pemberhentian bus  terakhir di Kampuang Cina, dekat rumah Shin Chi Hoo. Kelompok di Pengantungan  ini dipimpin Sema’un Bakry (Salah satu tokoh Muhammadiyah Bengkulu), Salmiah Pane (Guru Taman Siswa). Kelompok kedua dipimpin Kakaung Gunadi dari Taman Siswa dan beberapa orang teman lainnya. Tepat pada waktu yang telah ditentukan, bus yang dinanti berhenti menurunkan pesisir di Pengantungan dan Bung Karno ada di dalamnya. Bung Karno kemudian  turun dan menyalami Sema’un Bakry dan Salmiah. Bung Karno mengatakan bahwa ia akan menginap di hotel Sentrum (Hotel Asia sekarang) sebagai tempat penginapan  sementara. Beberapa hari di Bengkulu, Bung Karno mencari tempat tinggal tetap. Beliau tinggal di kawasan Tanah Patah menyewa rumah milik H. Middin. Tempat  tinggalnya sangat indah pemandangannya ke Timur, dimana ada gunung Bungkuk kebanggaan masyarakat Bengkulu. Namun, Bung Karno tidak tinggal lama di sana.  Beliau kemudian pindah ke Anggut Atas (sekarang rumah itu dijadikan museum BUng Karno). Bung Karno memiliki seorang isteri bernama Inggit Garnasih dan memiliki dua orang anak angkat. Semuanya perempuan. Yang satu bernama Ratna Joemi dan satu  lagi bernama Sukartik yakni anak angkatnya dari Ende berumur kurang lebig 9 tahun ketika itu. Setelah Bung Karno mendiami rumahnya di Anggut Atas, tampaknya Bung Karno tidak betah tinggal di rumah itu. Buktinya setiap pagi Bung Karno keluar rumah  melanglang buana dengan sepeda merek Vongers kesayangannya, dengan setelan pakaian rapi serba putih berdasi, kopiah hitam, terkadang dilengkapi dengan kaca  mata hitamnya sehingga menambah daya tarik ketika tersenyum. Bung Karno tidak sombong dan angkuh kepada orang Bengkulu. Sebaliknya ia selalu mengumbar senyum kepada siapa saja yang ditemuinya di jalan. Apalagi dengan  teman seperjuangannya.  Jika melihat temannya berada jauh darinya, ia tak segan melambaikan tangan sambil mengucapkan salam “hidup”, sebuah salam  partai  pergerakan waktu itu. Partai Parindera .  Beberapa tokoh Muhammadiyah ikut bergabung dalam partai itu. Salamnya memang mirip dengan salam Hitler di Jerman. Bung Karno mempunyai kebiasaan mengunjungi sekolah-sekolah partikelir atau sekolah non pemerintah. Seperti Sekolah Muhammadiyah di Kebun Roos, apalagi  sekolah Taman Siswa merupakan sekolah kebanggan masyarakat Bengkulu masa itu. Setiap hari Sabtu ketika jam pelajaran akan berakhir, Bung Karno sudah berada di ruangan kantor bersama guru-guru. Kadang mereka berbicara serius, kadang  pula terdengar tawa lepas Bung Karno memenuhi ruangan tersebut. Sudah menjadi kebiasaan di Taman Siswa yang terletak di kawasan Tengah Padang, bila pelajaran terakhir, mulai dari anak-anak Taman Antara dan anak-anak Taman  Dewasa bergabung dalam sebuah kelas yang besar untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Itulah sebabnya Bung Karno selalu hadir. Ia bernyanyi bersama para  siswa dengan semangat tinggi. Yang pada akhirnya lagu tersebut dijadikan sebagai lagu kebangsaan Indonesia. Semasa hidupnya Bung Karno selalu menanamkan rasa cinta tanah air kepada rakyat Indonesia.  Termasuk ketika ia berada di Bengkulu. Salah satu cara Bung Karno  menanamkan rasa cinta tanah air itu dengan cara  berkumpul dengan anak-anak. Hal ini dirasakan langsung Boerhan Wahid ketika itu. Bung Karno selalu mengikuti kegiatan kepanduan (pramuka saat ini). Kepanduan saat itu diberi nama Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI).  “Jika kami mengadakan  kamp furen (api unggun), maka Bung Karno menyempatkan diri datang padang siang harinya,” kata Boerhan dalam catatannya. Jika Bung Karno datang, semua anggota KBI diminta duduk melingkari api unggun. Sesudah itu, Bung Karno mengadakan kegiatan cerdas tangkas. Pertanyaannya seputar pengetahuan nama-nama pahlawan pada masa itu. Setelah itu, Bung Karno juga bercerita tentang tokoh-tokoh pewayangan seperti cerita tentang Ken Dedes dan Ken Arok, Empu Gandering yang membuat keris dengan  jari-jari tangannya sendiri. Kemudian dari ceita itu, Bung Karno mulai menyinggung kepahlawanan Diponegoro dan Gadjah Mada. Dengan cara inilah Bung Karno  menanamkan rasa cinta air secara dini kepada anak-anak.  “Cinta terhadap tanah air memang belum begitu melekat. Namun, cinta kami pada Bung Karno sudah mulai  tertanam di lubuk hati,” sambung Boerhan Bung Karno suka sekali berkumpul dengan para pemuda Bengkulu. Cara yang dilakukannya tidaklah secara langsung. Tetapi dengan menggunakan caranya sendiri.  Sistem yang digunakan Bung Karno mengumpulkan para pemuda-pemuda di Kota Bengkulu waktu itu lewat perkumpulan musik yang terkenal di Kota Bengkulu. Nama  perkumpulan musik itu adalah Monte Carlo. Perkumpulan ini dipimpin oleh Manaf Sofyan alias Manaf Laboe (bukan Manaf Thalib). Singkat cerita, setelah mereka  membaur dengan Bung Karno, mulailah Bung Karno mengajak mengadakan pertunjukan toneel/sandiwara. Pertama kali pementasan yang diangkat adalah cerita Putri Gading Cempaka (Rainbouw). Sesudah itu Cut-Cut Bie, Cungking Djakarta, To Bero, Dokter Saytan,  Hantu Gunung Bungkuk dan Kibin Dimpye (Si Kecil Jempolan). Dimana Boerhan Wahid pada waktu itu  diberikan kepercayaan sebagai pemegang peranan utamanya. Pada waktu itu umur Boerhan Wahid  mendekati 12 tahun. Dengan adanya pertunjukan demi pertunjukkan tersebut, nama Bung Karno mulai menjadi buah bibir orang.  Saat ini banyak  para pemuda  yang terpikat dengan penampilan Bung Karno. Sehingga anggota Monte Carlo terus bertambah.
Dengan adanya pertunjukan-pertunjukan sandiwara kerja sama Bung Karno dengan Monte Carlo ini, maka para pemuda yang menjadi ambtenar (pegawai negeri) jajahan  Belanda pada waktu itu mulai dipanggil oleh bossnya (yang menjadi anggota Monte Carlo) oleh Belanda. Mereka ini akhirnya disuruh memilih salah satu saja.  Kalau mau jadi pegawai, jauhi Ir. Soekarno. Kemudian, bila mau dekat Soekarno, lepaskan pegawai negerinya. Salah seorang pemuda pegawai pemerintahan jajahan  Belanda bernama Hanafi minta berhenti dengan hormat, karena ia memilih dekat dengan Bung Karno. Akibatnya, Monte Carlo bertambah tenar dimana Bung Karno berada didalamnya. Sesudah itu, akhirnya ruang gerak Bung Karno dan Monte Carlo mulai dipersempit.  Apa lagi kalau mau mengadakan pertunjukkan di luar daerah.
Seperti di Curup atau ketempat lain dalam keresidenan Bengkulu. Kalau mau mementas, akhirnya ia harus meminta  izin tertulis lebih dahulu. Itu pun  kadang-kadang berminggu-minggu ditunggu dan digugat baru dikeluarkan izinnya. Semenjak itu penjagaan terhadap Bung Karno semakin diperketat Pemeran Utama Si Kecil Jempolan. Diam-diam rupanya Bung Karno waktu itu sedang membuat naskah cerita. Naskah itu berjudul Klein Deimpye. Artinya: Si Kecil Jempolan. Sewaktu naskah sudah  jadi, maka naskah itu pun dipersiapkan untuk dipentaskan. Boerhan Wahid pun diajak untuk main. Dia disuruh Bung Karno untuk menjadi pemeran utamanya. Selain  itu, juga diajak orang lain. Diantaranya,  kakak  Boerhan Wahid bernama Firdaus Boerhan (Alm) dan teman-teman lain sebanyak 30 orang yang umurnya masih  belasan tahun. Oleh karena sangat asyiknya mengikuti pertunjukan-pertunjukan Bung Karno di Monte Carlo tersebut, akhirnya pelajaran Boerhan Wahid di sekolah sangat merosot. Sebagai hadiahnya, Boerhan Wahid tidak naik kelas. Namun, dengan hadiah ini Boerhan Wahid tidak mundur mendekati Bung Karno. Waktu kecil itu, Bung Karno memberi tugas khusus kepada Boerhan Wahid. Pertama, koran yang dibaca Bung Karno kemarin, disuruh antarkan kepada H. Mohd Yoenoespokrol (pengacara). Sesudah dibaca H. Yoenoespokrol kemarin, lalu  diambil dan Boerhan Wahid disuruh mengantarkannya kepada Amad Kancil. Selanjutnya koran yang sudah dibaca Amad Kancil kemarin disuruh diberikan kepada orang  tua Boerhan Wahid, Wahid Johan. Koran yang sudah dibaca orang tua  Boerhan Wahid, kemudian dikumpulkan Boerhan Wahid. Kedua, bila koran bekas ini sudah banyak dan cukup timbangnnya 1 kg, maka Boerhan Wahid jual di Koperasi Ober, kepada Raden Mahzum, bapak orang tua guru  Boerhan Wahid, M. A. Hanafiah. Harganya f 0,5 (lima sen) satu kilo. Uang hasil penjualan ini harus ditabung ditempat tabungan sendiri yang dibuat dari bambu. Tabungan ini terletak di kaki meja tulis (ruang kerja Bung Karno) di Anggut Atas. Uang ini nanti kegunaannya khusus untuk membeli alat keperluan kepanduan.  Seperti mond harmonica (regen mulut), tali menali. Pendek kata untuk keperluan kepanduan. Dia juga ditekankan harus usaha sendiri. Tidak boleh minta kepada  orang tua. Ini adalah salah satu cara Bung Karno mengajarkan cara berhemat dan berdiri sendiri. Sekarang tuan Demang tahu persoalannya kan? Ibu ini dalam pandangan saya tidak begitu jauh usianya dengan ibu saya, dan jelas sekali ibu sangat mengharapkan  bantuan dari orang lain. Mengapa ibu ini tidak naik Delman? Mungkin tidak punya uang untuk naik Delman.  Tetapi beliau harus berobat ke Rumah Sakit. Saya  selaku anak bangsa yang masih gagah naik sepeda lagi, membiarkan perempuan tua yang sakit berjalan terseok-seok di depan mata kepalaku sendiri! Nee Menner;  hatiku menjerit. Harus ditolong,’’ kata Bung Karno. Melihat Bung Karno semakin serius berbicara (untuk mengecilkan persoalan) kakek Boerhan Wahid membujuk dan mengizinkan Nenek itu dibonceng Bung Karno ke  Rumah Sakit di lokasi Mesjid Akbar At-Taqwa Anggut Atas sekarang. Menurut cerita Ibu Tua: ‘’Sesampai di Rumah Sakit; Tuan Soekarno menyuruh saya duduk di ruangan tunggu untuk berobat: Tuan Soekarno langsung masuk ke ruangan. ‘’Dimana Tuan dokter bekerja? Entah apa maksudnya dan dibicarakan dengan dokter itu, tak lama kemudian Bung Karno keluar langsung menemui saya dan menyuruh  saya masuk menemui dokter, rupanya saya diperiksa langsung oleh tuan dokter sesudah itu. Saya diberikan resep berobat gratis alias tidak bayar. Setelah selesai  mengambil obat dan disuntik, saya lihat Tuan Soekarno tidak ada lagi. Sewaktu saya menuruni tangga rumah sakit mau pulang. Saya dipanggil  oleh kusir delman menyuruh menaiki delmannya. Karena ongkosnya sudah dibayar Tuan Soekarno katanya. Anehnya lagi selama ini tidak ada orang yang peduli  kepada saya. Tapi waktu itu ada saja orang yang mau memapah saya naik ke delman. Sesampainya saya di rumah; saya tak habis pikir: ‘’Tuan  Soekarno orangnya baik suka menolong orang tua miskin lagi, tapi…Tuan Soekarno sangat dibenci  Belanda. Ya…..Allah. Panjangkan jualah umur Tuan Soekarno ini. Orangnya tidak sombong dan sangat rendah hati pada orang miskin seperti saya ini. Tidak Boleh Membonceng Orang Oleh karena Bung Karno sangat sering membonceng orang dengan sepedanya, maka pemerintahan Belanda jadi geram dibuatnya. Untuk menghindari agar Bung Karno  tidak lagi membonceng warga, maka pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan khusus. Isinya adalah sebagai berikut: Pertama, setiap pemilik sepeda khususnya di dalam Kota Bengkulu tidak ada pengecualian, apakah dia seorang ambtenar (pegawai negeri) tidak dibenarkan  sepedanya memakai bagaze untuk membonceng orang. Bila peraturan ini dilanggar, maka dia akan ditangkap. Kemudian, dia harus membayar denda sebesar f. 025  (dua puluh lima sen) atau hukum kurungan selama 3 (tiga) hari. Kedua, bagi penduduk yang tinggal di luar kota, dapat dibenarkan memakai bagaze guna untuk mengangkat barang jualan. Seperti buah-buahan, kayu bakar, beras.  Pokoknya, bagazinya hanya digunakan untuk membawa kebutuhan hidup sehari-hari. Hanya itu! Tidak. Masih ada yang lainnya. Bung Karno juga selalu dimata-matai. Gerak-geriknya diawasi. Setiap hari keluar dari rumahnya, beliau selalu  diikuti dua orang polisi reserse. Pekerjaan reserse ini adalah  membuat laporan kepada atasannya; dimana Bung Karno bertandang (bertemu) dengan siapa dia  berbicara hari itu. Apakah dia mengumpulkan orang banyak. Pendeknya, semua gerak gerik harus dilaporkan. Apalagi kalau polisinya lengah Bung Karno menghilang, tidak tahu dimana rimbanya, maka polisi reserse itu mendapat hukuman stering ares (masuk kurungan). Soal pengawasan Bung Karno ini, ada suatu kejadian yang menggelikan hati.
Pada suatu hari, Bung Karno mengendarai sepedanya ke Pasar Ikan (Barukoto II sekarang-red). Di sana adalah tempat tinggal seorang tokoh Muhammadiyah bernama  Achmad alias Amad Kancil. Pak Amad Kancil ini pekerjaannya tukang jahit pakaian. Di samping itu perlu diberitahukan, bahwa beliau adalah salah seorang paman  dengan Ibu Fatmawati. Singkat cerita; di depan rumah Pak Amad Kancil tumbuh  pohon jambu yang rimbun dan besar. Begitu sampai Bung Karno di rumah itu, rumah  Amad Kancil, sepedanya langsung disandarkan oleh Bung Karno di pohon jambu itu sampai esok harinya.
Si polisi reserse kalang kabut kebingungan dan bertanya kepada setiap orang yang lewat di depan rumah Pak Amad Kancil. Apakah dia ada melihat Tuan Soekarno  disitu. Setiap orang yang ditanya mengatakan tidak melihat Tuan Soekarno itu. Rupanya Bung Karno berpesan kepada Pak Amad Kancil sebagai berikut ‘’Biarkan sepeda saya di situ Pak. Jangan dibawa masuk. Ada yang menjaganya. Sekarang saya mau pulang naik delman.’’ Bung Karno masuk ke rumah itu dan keluar jalan dapur menyusur jalan Kampung Bugis, di samping LP (Rumah Penjara) sekarang. Sesampainya di jalan besar, Bung  Karno menyuruh seorang anak kecil mencari Delman. Beliau kemudian naik delman pulang ke Anggut Atas. Besok harinya Bung Karno menyuruh saya mengambil sepeda   itu mengantarkannya ke Anggut Atas, Rumah Bung Karno yang jadi lokasi bersejarah.

2 responses to this post.

  1. wew,,gtu ya ceritanya *manggut2*

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: